Minggu, 14 Agustus 2011

Maaf Ya Bu.

mungkin ini adalah sebuah hal yang sangat sepele. Disaat umur gue sudah mulai meninggalkan 22 tahun, gue baru menyadari bahwa keluarga adalah hal terpenting di dunia ini setelah Tuhan.

Tanggal 21 Agustus nanti, adalah hari ulang tahun ibu gue. Dan karena tanggal 21 bertepatan dengan hari minggu (tanggal merah) jadi nyokap gue membuat acara buka puasa bersama keluarga sekalian sama keluarga gue yang lain.

Tapi sedih banget, di tanggal yang sama, bokap gue mesti ngurusin kerjaan yang belum kelar di kantornya, dan gue kebagian taping program yang gue pegang. Kemaren malem, nyokap gue udah sedih gitu, soalnya yang bisa dateng ke acara ulang tahunnya cuma dia sama ade gue.

Dari situ gue ngerasa sedih banget, betapa gue udah nyia-nyiain waktu bareng keluarga yang gue punya kemaren pas nganggur dan malah kelayapan ngga karuan sama temen-temen gue. Gue pengeeennn banget dateng ke acara ulang tahun nyokap gue besok. Mudah-mudahan tanggal segitu cuma loading doang, jadinya ngga perlu dateng hehehe :p

Gue jadi ngga kebayang, gimana rasanya jadi anak yang ditinggal terus-menerus sama kedua orang tua nya untuk bekerja. Waktu gue kecil, gue pikir dengan uang gue bisa seneng, ternyata, butuh 22 tahun untuk menyadarkan gue, bahwa bukan uang yang paling krusial di muka bumi ini.

Terima kasih Tuhan, gue sangat sangat sangat bersyukur atas anugrahMu. Mungkin saya bukan anak paling kaya secara finansial, tapi saya yakin, saya adalah anak yang sangat terberkati karena di karuniai dengan limpahan cinta dan kasih dari keluarga saya.

Alhamdulillah.

Selasa, 26 Juli 2011

Tips Ujian / Test TOEFL

Untuk kalian yang ingin bekerja di perusahaan multinasional, maupun perusahaan pemerintah yang berbasis internasional, mendapat skor tinggi adalah hal yang wajib. Begitupun untuk kalian yang berencana untuk melanjutkan pendidikan di luar negri. Biasanya, nilai TOEFT minimal yang diperlukan adalah sekitar 550. Itu adalah standart untuk diakuinya kemampuan kita dalam berbahasa Inggris.

Berikut akan saya jeasakan beberapa tips dan trik untuk lulus dan mendapatkan nilai yang bagus dalam test TOEFL:

1. Belajarlah dari buku yang banyak di jual di toko buku. Jangan belajar dari koran bekas, ataupun majalah yang ada di salon.

2. Jadilah anak dari si pembuat soal test. Keuntungannya antara lain kamu bisa tau seperti apa test yang akan dijalani, dan sukur-sukur kamu bisa tau jawabannya.

3. Jangan ngebet (nyokntek pake buku) pada saat ujian berlangsung. Selain ngga jelas buku panduannya apa, kamu bakal ketinggalan
listening section yang sedang berlangsung.

4. Sewa joki TOEFL. Jangan joki
three-in-one. Jangankan ngerjin TOEFL, dia bisa baca sama anaknya ngga nangis aja udah sukur.

5. Untuk yang beragama Islam, wirit terus aja setiap malem, sukur-sukur kalo kamu ngga bisa ngerjain tu soal, komputer yang baca lembar jawaban mendadak eror dan nilai TOEFL kamu jadi di atas 550.

6. Ngga usah grogi. Emangnya kamu lagi ikut audisi
Indonesian Idol apa.

7. Punya koneksi sama perusahaan/universitas yang kamu tuju. Persetan dengan nilai TOEFL! Kalo kamu anak direktur, nilai TOEFL jongkok juga, CV kamu maju teroooss pantang mundur!!

8. Untuk yang mau wiritan, jangan wirit pas ujian berlangsung. Waktu mengerjakan soal terbatas kali. Lagian, tasbeh ngga bisa dipake buat buletin soal sih sejauh yang saya tau.

9. Punya orang tua bule. Jadi otomatis bahasa Inggris nya cas-cis-cus. Sukur-sukur pernah tinggal di luar negri.

10. Kalo ngga punya semuanya. Yaudah kamu bisa berharap dan berdoa.


Oke, segitu aja saran saya. Semoga berhasil,
good luck for your test fellas!

apa bacanya anak-anak?

God help me

Senin, 25 Juli 2011

Segitiga Emas dan Impian

Dalam kehidupan, ada suatu masa dimana setiap manusia harus mengambil keputusan. Saat ini, adalah satu minggu penuh kegalauan buat saya. Hal ini bermula dari cerita saat saya kecil dahulu.

Dahulu, saat anak-anak lain bermimpi untuk menjadi doktor, astronot, dan pilot (biasa, impian anak-anak muluk yang belom ketemu fisika dan ipa), saya punya mimpi yang berbeda dan tidak terlalu muluk (ya muluk sih sebenernya). Saya begitu terobsesi untuk bekerja di kawasan segitiga emas, mengendarai mobil bagus, berdandan ala wanita karir, menduduki jabatan penting, terpandang, mandiri, dan tidak tergantung kepada lelaki. Imajinasi saya ketika saya kelas 5 SD, wanita macam itu adalah wanita terkeren seduni, jauh lebih keren daripada Westlife yang lagi heboh.

Saat SD, saya berfikir untuk masuk jurusan Ekonomi, karena dari SD kerjaan saya ya berdagang, saya fikir dahulu, Manajemen adalah jurusan yang paling tepat untuk saya. Karena jurusan mengicu ngga ada kan di perguruan tinggi.

Namanya juga anak-anak, saya belom aja ketemu sama mata pelajaran akuntansi. Dapet nilai NOL besar bukan hal luar biasa buat saya. Saya orang yang super ceroboh karena selalu salah di 3 nomer pertama, dan akibatnya hancurlah pembukuan saya kebawah.

Akhirnya, saya mencoret jurusan ekonomi dari jurusan impian saya, selain karena nilai ya doremi fa solasido di akuntansi, kedua orang tua saya adalah Sarjana Ekonomi, duh, masa satu keluarga S.E semua gelarnya, akhirnya saya pun menunda pertimbangan jurusan untuk perguruan tinggi nanti.

Meskipun kenyataan tidak memungkinkan, jauh di dalam hati saya, berkecimpung dalam dunia bisnis tetap ada entah di bagian hati dan otak saya. BEJ dan wall street adalah tempat terkeren setelah surga dan Hogwarts. Apalagi, ketika kelas 3 SMA, saya ingat sekali, ada seseorang yang datang dan menjelaskan mengenai pekerjaan sebagai pialang saham. Dan hal tersebut membuat saya tidak bisa tidur semalaman.

Saat ini, saya sudah bekerja di Kompas TV. Sebuah tempat yang jauh sekali sih memang dari impian masa kecil saya. Namun sekarag, saya harus menghadapi realita, saya harus menghadapi kenyataan bahwa manusia hanya dapet berusaha dan Tuhanlah yang menentukan. 5 tahun dari hari ini, saya percaya bahwa saya bisa. Sebagai lulusan komunikasi, saya harus terus berjuang (opo hubunganeeeeee). G.lak untuk saya sendiri!

Rabu, 20 Juli 2011

Menikahi diri sendiri

Selamat malam! Masih bersama saya si anak mellow yang masih kebawa suasana tadi sore. Ngomong-ngomong soal pasangan hidup, ada seorang kawan sama di komunikasi berinisial AW, yang berkata "ih, gue ngga mau lo pe, punya istri yang sifatnya sama kaya gue, itu kaya ngawinin diri gue sendiri men!"

Begitu kira-kira katanya waktu itu,

Hm... padahal menurut saya, saya malah kepengen punya orang yang satu pikiran sama saya. Maksud saya, kenapa juga kita mesti susah-susah menggabungkan dua pikiran kalo kita bisa barengan sama orang yang satu pikiran?

Orang bilang, pernikahan itu adalah menggabungkan dua pikiran menjadi satu kesatuan, lah, kalo tujuannya untuk mencapai satu kesatuan, bukankan lebih mudah apabila kita bersama denga orang yang satu pikiran?

Misalnya seperti ini, saya adalah orang yang konservatif dan tertutup, ketika saya berhubungan dengan seseorang yang bersifat ekstrovert dan santai, saya pribadi merasa saya seperti di planet lain, dan saya merasa jadi tidak bisa mngimbangi. Rasanya ada yang janggal mengetahui pasangan saya sedang sibuk membangun hubungan sosialnya, sedangkan saya hanya membangun hubungan sosial saya dengan beberapa orang saja (tentu dengan yang saya merasa nyaman). Di lain sisi, pasti dia juga merasa sebal dan kesal, "ini orang kok gini banget sih, apa-apa takut, apa-apa malu, payah banget sih". Lalu bagaimana bisa tercapai tujuan yang sama kalo begitu?

Pada akhirnya, terdapat suatu limit, dimana kedua belah pihak tidak dapat lagi mentolelir sifat pasangannya tersebut. Mungkin saya merasa dia terlalu gaul, dan saya merasa minder, atau bisa jadi pasangan saya merasa saya terlalu cupu dan payah untuk menjadi pasangannya karena tidak mau diajak pergi kemana-mana.

Maka dari itu, saya rasa lebih menarik apabila kita hidup dengan orang yang satu kepala dengan kita. Misalnya, saya menyukai perkembangan terbaru seputar gadget, saya tentu akan menjadi perempuan pintar karena saya bisa berbicara mengenai hal-hal yang memang saya suka dan saya gemari, jadi kita akan bisa membahas banyak hal seputar hal yang kita sukai, istilah kasarnya, nyambung gitu loh.

Lain halnya ketika saya, menyukai peekembangan gadget terbaru, dan pasangan saya mengamati mengenai dunia oahraga. Sampe kiamat juga saya ngga perduli sekarang taufik hidayat masih main engga, susi susanti udah kelaut apa kegunung, pas ngobrol ya saya cuma bisa planga plongo bego kalo ditanya. Bener ga si?

Saya rasa akan sangat menarik dan sangan menyenangkan, apabila saya menikahi diri saya sendiri dalam versi laki-laki, tanpa diberi tahu saya akan mendapat perlakuan istimewa sebagaimana yang selalu saya sukai, dan tanpa disuruh saya pun tidak akan menjadi cewek rempong yang manja dan kebanyakan ngeluh.

Saya perhatikan 3 postingan terakhir ini selalu mengenai keluarga. Mungkin saya kebelet kawin. :P

Future us

sore ini, gue kejebak macet ngga tau diri di daerah tanah kusir. Bukan hal yang buruk sebenernya, pada dasarnya, selama gue ngga lagi diburu waktu, macet ngga pernah jadi masalah buat gue, apalagi kalo bb gue ada sinyal, dan FD gue udah diisi sama lagu-lagu favorit.

Ada yang beda sama macet sore ini, entah gimana awalnya, sare tadi gue emang lagi kena macet barengan sama ibu gue. Ngobrol ngobrol ngobrol, akhirnya tiba-tiba kita ngomongin soal pernikahan dan calon suami idaman.

Pada dasarnya, ngga ada patokan soal lelaki mana yang gue suka. Beberapa kali menjalin hubungan, gue selalu mendapat tipe orang yang sangat berbeda satu-sama lain.

Ada yang cuek banget kaya lagi pacaran sama tutup panci, ada yang baik banget kaya pacaran sama sales asuransi kalo lagi nawarin premi, ada yang sok kegantengan, ada yang berasa ustad, dan lain sebagainya.

Sebenernya, bentuk fisik ngga pernah ada di urutan nomer satu gue. Orang seperti gue, cenderung untuk santai dan bisa menerima akan kekurangan setiap orang.

Dari kecil, gue terbiasa untuk berdagang. Orang boros macem gue ini selalu merasa kekurangan uang jajan. Maka dari itulah otak gue selalu salah fungsi, alih alih digunakan untuk menghapal pelajaran, malah digunakan untuk mencari celah berdagang. Kecil yang gue maksud disini adalah SD. Ya begitulah, kadang ada sedikit keyakinan kalo gue sebenernya anak orang yang salah ambil, dan gue adalah turunan cina padang. ckckck.

Dari situlah, mungkin hal yang paling penting dan harus ada dalam figur calon suami gue nanti adalah figur lelaki yang pandai mencari uang, mandiri, tidak banyak mengeluh, dan tidak pelit. Sumpah mati, saya sebal sekali sama orang pelit. Kalo ada laki-laki terbrengsek di dunia, menurut saya lelaki pelit jauh lebih hina dibanding jenis lelaki manapun. Amit amit ketok kayu, cukup sekali saya merasakan punya kekasih pelit, jangan sampai punya suami pelit dan medit.

Hal kedua yang menurut saya penting adalah, lelaki tersebut harus bisa menyetir motor matic, bebek, dan kopling, serta jago menyetir mobil matic maupun manual. Saya ngga mau, masa suami saya nanti lebih payah menyetirnya dari saya. Saya saja sudah menyetir sampai semarang, masa suami saya di tengah kota aja Insya Allah lancar? No tengkyu.

Yang ketiga adalah, lelaki tersebut harus pintar komputer. Ya ngga usah pinter banget sih, tapi minimal, dia harus tau, apa operating sistem yang paling in, bagaimana menginstall program-program yang njelimet (menggunakan drive tambahan, atau aplikasi bayangan), meng-crack program-program, tau spek-spek komputer, dan kalo apes misalnya laptop saya kena virus saya tinggal merengek kepadanya dan dia bisa dengan mudahnya menginstall ulang kembali laptop saya dengan OS yang lebih canggih.

Sebuah nilai plus kalo dia bisa membongkar sendiri komputer dan laptop. Entah kenapa, mungkin karena saya terbiasa dengan ayah saya yang bekerja dalam bidang IT, saya sepenernya ngga gaptek-gaptek amat, saya cenderung mengikuti gadget terbaru apa, membaca dengan cermat apa apa saja penemuan terbaru dalam bidang IT, meskipun juga ngga pinter-pinter amat juga.

Maka dari itu, saya cenderung ilfil dan ngga respek sama cowok, yang udah ngga bisa kompuet, eh sok tau. Haduh... mending daripada sok tau diem aja deh, bilang aja ngga tau, nah itu lebih baik menurut saya.

Menurut saya, cowok yang jago komputer itu smart dan seksi. Ya bukan berarti lantas sama mau punya suami teknisi komputer, tapi menurut saya, cowok itu tidak perlu berbadan besar dan memiliki tenaga kuat, saya lebih suka cowok yang biasa saja, tapi jago elektronika dan komputer. Bayangan saya soal suami saya nanti ya, dia yang bakal benerin genteng bocor, ban kempes anak, ganti ban mobil, ngecek mesin mobil saya, ganti ledeng, dan menginstall ulang laptop saya.

Saya rasa itu bukan hal yang muluk. Saya rasa, perihal mengenai lelaki tersebut haruslah tinggi, putih, tampan, kaya, dan sebagainya itu relatif. Tampan itu kan selera, dan kaya itu bisa dicari asal ada doa dan usaha. Yang penting baik, shaleh, rajin shalat, rapih, wangi, sayang sama saya, setia (WAJIB), ngga punya banyak temen cantik (haha, egois), dan merupakan jodoh saya (cielah).

Ah sudahlah, saya jadi ngelantur malam-malam. Jodoh itu kan ditangan Tuhan, nanti saja saya pikirkan nanti. Sekarang cari uang dulu buat beli sepatu baru. Ciao!

Kamis, 14 Juli 2011

Right.

Never believe in human. They will do anything to live.

-The Island

Rabu, 13 Juli 2011

menjadi ibu

entah kapan, tapi saya harap, suatu hari nanti saya bisa menjadi ibu.
entah kapan, tapi saya harap, saya bisa melahirkan secara normal.
entah kapan, tapi saya harap, saya bisa mengayomi anak saya nanti lebih baik dari ibu saya mengayomi saya dan adik perempuan saya.
entah kapan, tapi saya harap, anak saya bisa bangga memiliki saya sebagai ibunya.

menjadi ibu sangatlah sulit.
mengatur anak yang sok tau, merasa paling benar dan tidak tau diuntung.
oh, sungguh melelahkan.
menjadi ibu sangatlah sulit.
menyisihkan banyak uang untuk keperluan dan keinginan anaknya yang keras kepala.
oh, sungguh memusingkan.

menjadi ibu adalah pekerjaan terkeren sedunia.
menjadi ibu adalah pekerjaan mulia.
siapa yang bisa menggaji semua yang telah dilakukan ibu untuk keluarganya selain Allah SWT?

saya harap, nanti.
saya tidak hanya bisa menjadi istri.
tapi juga bisa menjadi seorang, ibu.

amin.

comma








just closed UP page. i have to much shoes to wear. i should tell my self to stop. but this one was too georgeus. How can i missed it? :""""(

Cerita Sepatu Kuda


Hari ini saya membereskan sepatu-sepatu saya yang bertebaran dimana-mana. Ada yang ditaro begitu aja di rak sepatu, ada yang di taro dalem plastik karena takut kebanjiran. Ada juga yang di taro di transparent shoe box, ada yang belom dikeluarin dari bungkusnya, ada juga yang bungkusnya entah kemana dan dilempar-lempar dalam sebuah tumpukan besar sampe jadi berdebu. Eh! ada juga yang di taro di rak luar rumah, jadi debuan parah. Ah, ga karuan deh ada dimana mana kaya Nikita Willy.

berbungkus bungkus sepatu di kresek takut rusak kebanjiran

Terus terang, saya emang demen banget liat dan beli sepatu lucu. A girl is what she wear. Cuman tololnya, biarpun sepatu saya bejipun, saya selalu always pake sendal jepit kemana-mana. You can ask my friend deh kalo ngga percaya. Mungkin kalo ga ada foto ini, saya cerita saya punya banyak sepatu paling saya dianggep lagi ngibul, soalnya sumpe, baru 6 bulan belakangan ini saya mulai pake sepatu, sebelumnya mah, Ando is my life. Tapi gimanapun, biar kata saya tau saya ga akan pake tu sepatu, saya tetep paling ngga tahan kalo ada sepatu lucu dipajang di etalase atau di mana gitu, kalo ada uang dan kebetulan ada yang pas nomernya dengan ukuran kaki saya, saya kemungkinan besar membelinya.

Nah, kemaren, shoe organizer saya baru aja dateng. Jadi, saya berniat untuk membereskan semua sepatu-sepatu saya yang ngga pernah dipake itu sampe akhirnya debuan. Yaudah, cuci cuci cuci, pindah pindah pindah... saya ngga nyangka saya masih punya sepatu sebanyak itu. Saat ini, sepatu yang udah masuk shoe organizer saya ada sekitar 80 buah. Padahal, beberapa dari sepatu saya ada yang udah dibuang karena kebanjiran dan ada juga yang udah saya jual karena engga pernah dipake.

rapih kaaaan :D

Saya beli 5 buah shoe organizer, saya pikir, itu akan cukup untuk menampung sepatu saya. Dan ternyata saya salah. Karena ada sepatu yang belom masuk, dan... masih ada 4 kardus sepatu lagi menunggu untuk dibereskan. -___-


ini 4 kardus sepatunya

isi kardusnya (sepatu ditumpuk-tumpuk boxnya entah kemana)

sepatu yang belom masuk

Akhirnya, tadi sore saya kembali order 2 buah shoe organizer. Mudah-mudahan kali ini cukup deh ye. Saat menulis postingan ini, saya belom tau mau saya pake kemana tu sepatu-sepatu saya. tapi, yah baiklah, Depe, stop make sendal jepit dan mulai gunakan sepatu-sepatumu!!!

Note: Inget ya, saya bukan SHOEFETISH, dan saya bukan kolektor sepatu. Saya cuma kebetulan sering beli satu dua sepatu aja jadi numpuk. Oke. Jadi, biar sepatu saya banyak, saya ngga ngaku-ngaku shoefetish lah yaaa.. :p

Selasa, 12 Juli 2011

HA!

Hanya Soal Berbeda Perspektif Saja


sore ini, gue YM-an sama siddha, dan dia tiba-tiba ngasih gue sebuah link. siddah bilang, katanya itu tulisan bagus, tulisan kritis. Hm... Sebenernya ada benernya juga. Tapi terus terang, gue cuma setengah setuju sama apa yang dibilang sama blog tersebut.

Beberapa hal yang ngga gue setujuin antara lain kesukaan Gubernur mejeng. Ya udah lah yaa, biaran aja. Apa urusannya coba? Maksudnya, itu kan ketidaksukaan sepihak menurut saya. Di setiap individu, pasti terdapat figur-figur yang memang tidak disukai, nah, mungkn Pak FB ini adalah salah satu orang yang tidak disukai sama si penulis. Jadi ya namanya udah ngga suka, ya biar fotonya ngga mejeng dimana-mana, ga suka ya pokoknya ngga suka, titik.

Kedua, persoalan mengenai kehadiran anak-anak dalam iklan Jakarta Great Sale. Menurut saya itu bukan masalah. (Lagi-lagi) menurut saya, ini hanya soal sentimen belaka. Karena, orang tua mana sih yang ngga mau membelanjakan anaknya? Orang tua mana yang ngga pengen, anaknya bisa membeli apa yang mereka nginkan? Kalau memang mereka memang memiliki kelebihan uang untuk sesekali memenuhi keinginan anaknya? Ya justru menurut saya inilah saatnya. Ya ketika JGS tu. Kenapa? Karena harganya yang murah. Orang tua mungkin tidak bisa membelikan keingnan dan kebutuhan anaknya ketika barang tersebut tidak mendapat potongan harga, nah, sekarang ketika harganya sedang diskon 50%, orang tua memiliki cukup uang, dan anaknya menginginkan, mengapa tidak?

Ketiga, penulis blog tersebut membandingan iklan JGS dengan Singapore Great Sale 2011. Menurutnya, SGS lebih bagus karena tidak ada figur perdana mentri dan anak-anak dalam iklan mereka. Loh? Kalo Jakarta juga melakukan hal yang sama, apa tidak dicap ikut-ikut? SGS kan pertama kali diadakan pada tahun 1993, sedangkan JGS baru dilangsungkan pertama kali pada tahun 1999. Kalo sama, idenya sama, penempatan tanggal yang nyaris sama, dan iklan juga sama? Bukankah lebih memalukan?

Menurut pandangan saya, dalam iklan tersebut, pembuat iklan berniat untuk menjelaskan bahwa tidak hanya barang-barang yang dikonsumsi oleh usia dewasa saja yang mendapat diskon saat JGS, melainkan diskon mencangkup seluruh produk, baik dari usia balita sampai nenek-kakek sekalian. Ah, lagi-lagi ini soal persepsi dan cara pandang dan tingkat sentimen semata sih menurut saya. :p

Saya pribadi, tidak memiliki ketidak sukaan kepada pak FB, karena saya tau, betapa sulitnya mengatur warga Jakarta, orang Jakarta yang mintanya banyak tapi kalo diatur malah ngomel balik. Coba? Apa kita tidak pernah mencoba berfikir seandainya kita yang jadi Gubernur Jakarta? Dikata gampang kali? Apa cukup 5 tahun untuk membenahi sampai jadi suber gaul binti funky? Apa cukup 5 tahun membuat Jakarta jadi bersih dan tidak macet? Saya rasa sulit. Saya yakin pasti ada maksud yang baik dari setap keputusan yang ambil oleh pemerintah Jakarta.

Yah, begitulah, sekian komentar saya soal tulisan beliau. Tentu tidak ada yang salah maupun benar dalam setiap tulisan kami. Yah, namanya juga anak muda :p. (image from here btw)

Senin, 11 Juli 2011

Sedikit usaha melarikan diri





berangkat mendadak, 9 Juli 2011. Bersama anak-anak seteresss yang udah pada kerja.
Semangat terus agan!

Kamis, 07 Juli 2011

blitz ( 2011 )


kemaren gue nonton Blitz. filmnya Jason S. sebenernya gue emang udah ada niat buat nonton film ini, tapi belom tau kapan, sampe akhirnya kemaren gue mau nonton insidious kan (niatnya), tapi apa daya tiketnya habis jadi gw pun nonton film apapun yang juga main di jam yang sama, dan itu adalah Blitz.

Overall, filmnya biasa aja buat gue, agak sadis. Yang bikin seksi dari film ini cuma satu, yaitu karena spelling nya orang2 Inggris yang sooo yummeeehhh. Yang gw yakin seyakin2nya, ngga bakal gue ngarti klao ngga ada teks inggris atau subtitle indonesianya.

Hal kedua yang gue suka banget dari film ini adalah sountracknya. Kebanyakan dari ost film ini bergenre electronik sama drum and bass. Tapi sumpah mati, sampe malam tulisan ini di posting, saya baru nemu 3 judul yang jadi ost film ini, dan banyak lagu yang pengen saya dengerin tapi belom ketauan apaan judulnya.

Jadi, kalo ada pembaca yang tau full list os nya, tolong kasih tau saya ya!

Hal ketiga dan yang paling banyol adalah, pemeran penjahat di film ini muka sama tengilnya sama banget sama Mail OB! Asli dah, muke kaya curut, jalan petantang-petenteng, kurus, bedanya yang satu ngomong logat betawi, yang satu ngomong logat Inggris aje. Jadi yang sangat disayangkan, alih-alih nyeri ngeliat pembunuhan yang dilakuin sama doi, gw malah ketawa-tawa gara-gara ngebandingin ketengilan ni orang dua.

Buat yang mau nonton, rate gw buat film ini, 7. Bagus? Engga? Sila cek sendiri. :)

Kamis, 30 Juni 2011

hampir berakhir

nyaris berakhir.


dalam sebuah perjalanan, tentu akan terdapat akhir pada ujung perjalanan tersebut. Bisa jadi akhir tersebut menjadi jembatan kepada sebuah awal yang baru. Awal dari cerita lain menuju sebuah proses yang tidak kalah menarik.

Minggu depan, mungkin saya akan menemui akhir saya. Bukan akhir hidup, melainkan akhir cerita. Akhir cerita saya sebagai mahasiswi perantau. Minggu depan saya akan kembali ke Jogjakarta untuk mengambil beberapa barang saya yang tertinggal.

Menjadi seorang perantau tidak pernah terlintas sedikitpun dibenak saya dulu. Sebagaimana anak-anak SMA lain yang muluk dan dibayang-bayangin oleh nama keren Universitas Indonesia, depok adalah tujuan utama saya dalam melanjutkan kuliah.

Sebagai seoarang siswi SMA yang sangat malas dan sangat anti terhadap angka, saya hanya tertarik dengan jurusan Sastra Inggris dan Sastra Indonesia. Tapi sebagai anak yang penuh perhitungan pula, saya segera berpikir, mau jadi apa saya nanti sebagai lulusan sastra?

Akhirnya saya segera melihat jurusan-jurusan lain di universitas yang tidak memerlukan matematika dalam proses belajar mengajarnya. Pilihan saya jatuh kepada komunikasi (jurusan hipster kala itu), sejarah, dan antropologi.

Terus terang, saya orang yang amat sangat susah menghapal. Pada dasarnya, meskipun saya tidak suka sama sekali dengan matematika, tapi logika saya lebih baik dibanding dengan daya ingat saya. Mencari angka dengan menggunakan rumus sebetulnya lebih mudah untuk saya, namun ya emang dasar saya malas dan tidak rajin, saya pun ogah berhubungan lagi dengan mata pelajaran yang satu itu.

Pada saat saya duduk di bangku 3 SMA, guru sejarah saya adalah orang yang sangat saya sukai. Entah bagaimana cara beliau mengajar, tapi saya bisa menghapal semua yang beliau ceriterakan tanpa susah payah. Imbasnya, nilai sejarah saya berturut-turut mendapat 9 di rapot. Lain halnya dengan guru Antropologi saya. Beliau adalah guru paling galak se-SMA saya. Karena saya ketakutan setengah mati, saya pun jadi pintar sekali antropologi, karena saking takutnya disuruh jawab ketika pelajaran berlangsung, tanpa disuruh pun saya sering menghapal pelajaran tersebut. Akhirnya (lagi-lagi) nilai saya pun 9 di rapot.

Saya sebetulnya bingung, jurusan apa yang sebaiknya saya ambil di jenjang perkuliahan nanti? Apa sih yang dipelajari di jurusan Komunikasi? Lalu, apabila saya mengambil jurusan Sejarah dan Antropologi, apa memang, saya menyukai kedua jurusan tersebut? Pada dasarnya saya tidak menyukai sejarah dan antropologi, nilai saya di SMA bagus itu karena ada sebabnya. Saya khawatir, bagaimana jika nanti di bangku perkuliahan tidak ada dosen yang dapat mengajar dengan enak? Bagaimana jika nanti, tidak ada dosen yang mengajar dengan galak? Bagaimana caranya saya dapat meraih nilai sempurna sebagaimana ketika saya duduk di bangku SMA?

Akhirnya, komunikasi dan sastra Inggris menjadi dua pilihan utama saya. Pertama, saya pilih Komunikasi karena saya tau itu jurusan super nyampah se jagad raya, tentu sangat pas dengan tabiat saya yang nyampah, dan kedua, saya pilih Sastra Inggris karena dari saya kecil bahasa Inggris sudah menjadi bahasa kedua yang paling saya sukai. Mengenai pilihan ketiga, akan saya cari apa jurusan yag peringkatnya paling rendah, biar saya bisa diterima. (Ya, dari dulu memang rasa percaya dulu saya akan kemampuan saya sendiri sudah sangat kecil). Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa saya tidak mempertimbangkan jurusan Ekonomi?

Pertama, sumpah mati saya benci sekali akuntansi. Lebih dari 5 kali saya ulangan Akutunsi berakhir dengan nilai NOL besar karena saya salah di nomer satu di jurnal saya. Sehingga berakibat pada salah semua lah semua jurnal saya kebawah.

Kedua, saya NGGA PERDULI sama sekali dengan apalah teori ekonomi bla bla bla. Satu-satunya dari pecahan pelajaran ekonomi (dulu waktu SMA mata pelajaran ekonomi untuk jurusan IPS dipecah tiga agar lebih spesifik, yaitu Akuntansi, Ekonomi, dan Ekonometri) yang saya sukai adalah Ekonometri. Dan itupun karena menghitung. Selebihnya, ngga deh.

Alasan terakhir adalah karena jurusan ekonomi (apapun itu) adalah jurusan dengan peminat terbanyak selain kedokteran di setiap Universitas Negri. Jadi dengan kata lain? Persaingan untuk mendapatkan kursi di jurusan ekonomi di PTN buat saya amat sangat mustahal dengan kemampuan otak saya. Jadi ekonomi memang dari awal tidak pernah masuk ke dalam daftar jurusan impian saya.

Dan jadilah, saya tulis Komunikasi sebagai pilihan pertama, Sastra Inggris sebagai pilihan kedua, dan Sejarah di urutan ketiga. Tentu karena sejarah adalah jurusan dengan peminat terendah selain Sastra Nusantara dan Sastra Jawa.

Saat itu, UM UGM adalah ujian masuk PTN yang diadakan paling awal, sebelum UM Unpad dan ujian masuk D3 UI. UGM tidak pernah masuk ke dalam perhitungan saya. Dari awal, Universitas yang saya incar adalah UI dan UnPad. Tentu karena jurusan idaman saya adalah Komunikasi. Menurut statistik tahun itu, Komunikasi UI menempati urutan pertama di seluruh Indonesia dengan presentasi jawaban yang dibutuhkan sebanyak 48% dan di peringkat kedua adalah Komunikasi UnPad dengan prosentase yang dibutuhkan adalah lupa. Ya pokoknya begitulah. Kemudian UGM, yang ngga dijagokan ada di urutan ketiga dengan presentase yang lupa juga.

Tapi emang dasar, saya sungguh beruntung tau-tau diterima di UGM. Pilihan pertama pula. Ya sudah, dasar malas mencari universitas lain, saya pun fix memantapkan hati untuk pindah ke Jogja dan menjadi mahasiswi disana.

Kala itu bulan Agustus 2006. Pertama kali saya datang ke Jogja, Jogja sedang musim dingin. Saya ingat sekali kala itu saya hobi banget siang malam naik motor kelayapan dan engga pake jaket. Saya selalu ngomel di siang hari karena cuaca yang sangat sangat panas, dan selalu menggigil kedinginan sampai gigi saya gemeletukan karena luar biasa dingin.

Pindah ke Jogja berarti banyak hal untuk saya, pertama: mandiri. Saya harus cuci baju sendiri.. bersihkan kamar sendiri.. cari makan sendiri.. mengurus apapun sendiri... apapun sendiri. Tidak boleh malas, dan tidak boleh manja.

Kedua: kebebasan. Saya terbiasa untuk meminta persetujuan orang tua saya dalam setiap hal dalam hidup saya. untuk bermain, ikut kegiatan ini itu, dan banyak hal lainnya. dan untuk pertama kalinya, saya bebas untuk melakukan semua hal yang saya inginkan. tapi dengan batasan tentunya.

ketiga dan yang terpenting adalah, saya harus mulai melihat kenyataan hidup. Bahwa hidup tidak semanis ketika saya sekolah dulu. saya terbiasa memiliki teman yang baik, manis, dan sebagainya. namun ketika pada akhirnya kamu menghabiskan waktu nyaris 24 jam sehari dengan temanmu, kamu akan mengetahui watak asli mereka, itulah pelajaran paling berharga yang saya dapat ketika saya berada di Jogja.

Hampir 5 tahun lamanya saya menghabiskan waktu disini. Disini, sebagian hati dan pikiran saya tertinggal. Jogjakarta, yang pada awalnya adalah sebuah kita yang malas sekali saya datangi, bahkan ketika saya pulang kampung, sudah menjadi tempat yang akan saya datangi lagi ketika saya punya waktu nantinya. tenangnya jogjakarta sudah menggantingkan bising dan ruwetnya jakarta yang dulu menjadi favorit saya. saya menjadi selalu ingin tinggal dan terus tumbuh di kota tersebut. jogjakarta sudah mencuri hati saya.

Dan akhirnya, ketika perjuangan saya mendapatkan gelar s1 saya selesai, saya pun harus kembali ke kota asal saya. akhirnya saya bertemu dengan ujung perjalanan saya. jogjakarta sudah menjadi sebuah kota yang indah, manis dan pahit dengan segala cerita yang dimilikinya.

Selamat tinggal Jogjakarta, doakan saya, untuk menggapai cita, dan saya bisa kembali kesana. :)

Jumat, 24 Juni 2011

merger

oh... sekarang apple sama blackberry jadi BFF to...

iye bal. iye!

Top 5 Things

waktu di Jogja, saya dan seorang teman bernama siddha suka mainan yang namanya "today's top 5". Di permainan ini, kita harus nyebutin apa-apa aja yang menjadi 5 tertatas. nah, setiap hari tema yang ditentukan pastilah beda. berhubung sekarang saya sudah berdomisili di Jakarta (belom official sih, soalnya mobil sama 3 dus baju masih ketinggalan di Jogja) tapi saya ga tau kapan saya bisa main 5 top things lagi sama doi.

Nah, berhubung sekarang saya sedang di Pamulang, dimana koneksi internet lagi mantap sekali dan saya masih nungguin download-an Amazing Race selesai, jadi saya mau mainan top 5 things sendirian.

Tema hari ini adalah 5 tempat yang lagi pengen banget saya datangi sekarang (di Pulau Jawa):

1. Transstudio Bandung
udah lama banget saya kepengen ke Makassar buat dateng ke Trans Studio. Tapi apa mau dikata, tiket pesawat ge ke Australia bahkan jauh lebih murah dibanding tiket ke Makassar. Jadi sampai sekarang, keinginan buat dateng ke Trans Studio cuma bisa manari-nari di pikiran aja. Tapi emang dasar rejeki kali ye, tiba-tiba entah atas dasar apa Trans ngebuat cabang dari Trans Studio yang berlokasi sangat dekat dari Jakarta, yaitu di Bandung.
Sebenernya saya sayangkan banget sih, kenapa mesti pilih lokasi di Bandung coba? Bandung kan macet banget? Kenapa ngga milih lokasi kaya Jerudong (Brunei Darusallam), dia berlokasi agak jauh dari keramaian, jadi untuk mencapai tempat tersebut kita mesti naik mobil lagi. Nah, seandainya aja Trans Studio ada di Garut atau Tasik, pasti asik banget tuh. Kalo bisa di Kebumen ya ngga papa. Lumayan, Itung-itung sekalian saya pulang kampung. Tapi yaudahlah ya, udah terlanjut dibangun di Bandung ya mari segera kita jambangi.

2. Snow World.
Sumpah mati silahkan panggil saya kampungan. Sial se sial sialnya ketika seluruh keluarga saya sudah kesana saya belom pernah kesana. Saya beneran kepengen banget kesana, tapi ternyata yang di Ancol (dulu keluarga saya datengnya yang di Ancol) cuma sementara, dan sekarang katanya ada Snow World di BSD. Sebenernya sih ke BSD gampang banget, tapi saya belom nemuin orang yang mau diajak kesana. Alasannya klasik dan ngepet, "gue udah pernah tuh!". Asu,

3. Karimun Jawa
Ini ya ampun deh bener-bener. Dari tahun lalu kali saya mau kesana. Dari akhirnya si Shary pergi duluan, dan kemaren nyaris pergi sama Butet sampe ternyata saya harus berangkat ke Brunei dan akhirnya gagal, akhirnya sampe detik ini saya belom kesampean juga buat dateng ke tempat yang namanya Karimun Jawa. Esumpe deh, saya rasa sampe tu Karimun Jawa pasirnya udah ga putih lagi saya baru sempet kesana deh.

4. Gunung Bromo
I blame FTV for this! Sompret lah emang FTV tuh nyari tempat syuting yang bagus-bagus, bikin mupeng aja. Yang aling saya pengen datengin sih sampe ini adalah Gunung Bromo, soalnya (dari gambar) tempat ini keren banget, dan katanya dingin banget juga. Hyuuu... Ga sabar ga sabar pengen kesana. Sekalian mampir Surabaya juga deh, soalnya sampe saat ini saya belom pernah ke Surabaya, hahaha.

5.Grand Canyon
Kemaren nyarissssss aja saya nekat berangkat sendirian ikut tour sama Laguna ke sini. Tapi apa daya, duit saya terlalu mepet jadi saya harus menomersatukan perut, fufufu.Yang menyebalkannya lagi, adik saya bahkan sudah pernah kesana. Aduh... ngiri bro..


Yah, sekarang saya masih kere, jadi saya belum bisa mewujudkan keinginan jalan-jalan saya (padahal lagi nganggur). Tapi tenang, Insya Allah saya mau ke Bandung hari selasa depan (doain aja moga-moga jadi), setelah sebelumnya mau berangkat hari senin tapi hotel penuh semua, akhirnya saya berhasil membooking 3 kamar di Savoy Homann Bandung.



Teman-teman di Bandung, culik gue doooooonggggg!

Senin, 20 Juni 2011

fu



i'm only in it for the hot dudes.